Prakarya adalah usaha untuk memperoleh kompetensi cekat, cepat dan tepat melalui pembelajaran kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan dengan menggunakan berbagai macam bahan, alat, teknik, dan ilmu pengetahuan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan pengalaman dan pelatihan (Kamihadi et. al, 2022). Prakarya telah dibelajarkan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Di jenjang PAUD, jamak kita temui anak-anak mulai dikenalkan dengan produk hasil karya setempat oleh para gurunya. Misalnya, anak-anak di Kota Malang, mereka mulai dikenalkan dengan berbagai model Topeng Malangan dan pola batik.
Pembelajaran
prakarya pada jenjang PAUD ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran atas sikap
menghargai sebuah karya dan melatih tumbuhnya rasa percaya diri. Tak hanya itu,
melalui pembelajaran prakarya, anak-anak juga diajak melintasi jejak-jejak
kehidupan manusia dan hasil olah budi dan akalnya yang utama sehingga anak mampu
mengagumi, melestarikan dan memproduksi sebuah karya.
Misalnya, melalui
karya Topeng Malangan, anak-anak dapat juga diajak untuk menggali lebih dalam
tentang ekspresi wajah berbagai manusia seperti ekspresi wajah yang tertawa,
muram, kaget, dan sebagainya. Ekspresi wajah-wajah itu adalah penyiratan makna
atas berbagai peristiwa kehidupan yang telah dilalui manusia.
Namun
demikian, pembelajaran prakarya tak hanya terbatas pada karya seni, namun juga
produk-produk kreatif lainnya, seperti produk makanan, minuman, aksesoris, alat
rumah tangga, hiasan dinding dan yang sejenis.
Pada jenjang
yang lebih tinggi, pembelajaran prakarya diajarkan dengan mulai mengenalkan
karya sebagai sebuah produk prototipe. Di jenjang Sekolah Dasar (SD) misalnya,
anak-anak sudah mulai dibimbing untuk mampu membuat sebuah karya prototipe. Dari
hal paling sederhana, misalnya membuat sapu lidi, kemoceng, taplak, hiasan
dinding, dan aksesoris. Keterampilan memproduksi karya prototipe itu selanjutnya
terus diasah dengan tingkat penguasaan yang lebih kompleks pada jenjang-jenjang
berikutnya.
Dengan
demikian, pembelajaran prakarya, dengan kekhasannya untuk mampu menghasilkan
karya prototipe, adalah medium yang tepat untuk melatih siswa berpikir kreatif
dan berjiwa wirausaha.
Pembelajaran
Prakarya dan Berpikir Kreatif
Keterkaitan
antara pembelajaran prakarya dan kemampuan berpikir kreatif siswa sangatlah
erat. Rasanya tak mungkin kita mampu membuat sebuah karya prototipe tanpa
adanya proses berpikir kreatif. Lee (2005) menyatakan bahwa berpikir kreatif
adalah kecenderungan seseorang terlibat secara unik untuk menemukan sesuatu
yang baru dan yang lebih baik.
Sederhananya,
dalam keseharian tinggal di rumah, kita membutuhkan sapu sebagai alat
kebersihan bukan? Namun, dengan seringnya digunakan, dimungkinkan sapu mengalami
kerusakan karena pemakaian, kita merasa bosan dengan model sapu, atau model
sapu tidak cukup mampu digunakan untuk menjangkau kotoran yang tertumpuk di sudut-sudut
rumah. Sehingga, dari kesulitan itu, kita secara sadar akan mencoba untuk
mencari model-model sapu yang baru dengan inovasi yang terkini.
Demikian
juga, bila hal itu dilihat dari sudut pandang produsen sapu, maka produsen juga
dituntut untuk terus melakukan inovasi produk (karya). Artinya, produsen juga
dituntut untuk menguasai keterampilan berpikir kreatif.
Bercermin
dari situasi imajiner itu, maka dalam pembelajaran prakarya juga penting untuk ditekankan
pada tumbuhnya keterampilan berpikir kreatif pada diri siswa. Tujuannya agar
siswa memiliki kemampuan untuk menghadapi sekaligus mengatasi tantangan
kehidupan di masa mendatang.
Kemampuan berpikir
kreatif itu dapat distimulasi dengan mengajak siswa untuk mengenali beragam
produk hasil karya masyarakat, baik hasil karya individu maupun kelompok. Pengalaman
siswa atas interaksinya dengan sejumlah pilihan model, fungsi, dan teknik
pembuatan dari masing-masing produk karya itulah yang nantinya menjadi bahan
dasar siswa untuk mengadaptasi ataupun memodifikasinya menjadi sebuah produk
hasil karya yang baru.
Kemampuan
memberikan sentuhan inovasi atas model dan fungsi sebuah produk hasil karya
dapat dibelajarkan kepada siswa melalui metode diskusi. Hal itu sejalan dengan
hasil penelitian Ermi (2015) bahwa kegiatan diskusi dapat menjadi salah
satu metode belajar yang memberikan rangsangan pengalaman karena dalam diskusi
terjadi bertukar ide-ide dan dapat menambah pendalaman wawasan tentang hal
tertentu. Demikian juga, Bahri
& Zain dalam Suhandi et al. (2017) juga melaporkan hal yang
serupa bahwa pada siswa
terutama pada tingkat sekolah dasar, kegiatan diskusi bermanfaat dalam
merangsang kreativitas karena peserta didik didorong untuk mengungkapkan ide
gagasan dalam pemecahan suatu masalah.
Namun
demikian, meskipun metode diskusi telah banyak dilaporkan beberapa peneliti
mampu menstimulasi daya berpikir kreatif siswa, alternatif metode pembelajaran
yang lain juga tetap diperlukan. Misalnya, metode karya wisata, demonstrasi, dan
simulasi.
Pembelajaran
Prakarya dan Kewirausahaan
Seperti
telah disinggung sebelumnya, selain berkaitan erat dengan berpikir kreatif,
pembelajaran prakarya juga berkaitan erat dengan kewirausahaan. Bahwa siswa disiapkan
untuk mampu mengatasi kesulitan hidup dengan menciptakan pilihan-pilihan baru.
Senada
dengan pengertian itu, Ramadanti et. al. (2022) menjelaskan bahwa jiwa
kewirausahaan mencakup kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan dapat
memberikan kegunaan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Jiwa kewirausahaan bisa dimiliki oleh
setiap individu yang mau untuk terus berusaha berpikir kreatif dalam mencari
peluang-peluang yang ada di sekitarnya.
Kewirausahaan semakin relevan dengan perkembangan ekonomi global yang menuntut hadirnya produk-produk yang inovatif. Di sisi yang sama, terbatasnya lapangan kerja membuat persaingan untuk memperoleh pekerjaan juga semakin ketat. Siswa, melalui pembelajaran prakarya tengah disiapkan untuk berhasil menghadapi tantangan itu.
Berhasilnya pembelajaran prakarya dalam menumbuhkan jiwa wirausaha pada siswa dapat ditandai dengan (1) munculnya motivasi yang kuat dalam diri siswa untuk mewujudkan impian yang selama ini dianggap sulit; (2) munculnya perilaku kerja yang berfokus, teratur, dna sistematis; (3) memiliki semangat problem solving, yakni berfokus pada solusi daripada permasalahan itu sendiri; dan (4) Mampu membuat kerangka usaha untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Daftar Rujukan
Ermi, Netti. 2015. Penggunaan Metode Diskusi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Perubahan Sosial pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 4 Pekanbaru. Jurnal Sorot, 10(2), 155-168.
Kamihadi, Sri Suratinah Hadiyati, Dewi Sri Handayani Nuswantari, dan Ries Muhammad Effendy. 2022. Buku Panduan Guru Prakarya dan Kewirausahaan: Kerajinan untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta Selatan: Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Lee, K. H. (2005). The Relationship between Creative Thinking Ability and Creative Personality of Preschoolers. International Education Journal, 6(2), 194-199.
Ramadanti, Vina & Sari, Mayang & Khadijah, Lala & Nugraha, Dadan. 2022. Peran Guru dalam Menanamkan Jiwa Kreatif dan Inovatif Berwirausaha Peserta Didik melalui Pembelajaran Prakarya di Sekolah Dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar. 6(2). 112-122.
Suhandi, D. Y., Ibrahim, M. Y. , dan Budjang, G. 2017. Efektivitas Penggunaan Metode Diskusi Pada Mata Pelajaran Sosiologi Di SMA Negeri 2 Sungai Ambawang. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 2(9).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar