Mario Dandy, pemuda dengan badan tegap tertunduk lesu di hadapan awak media. Wajahnya yang ganteng tampak remang, meredup dibalik baju oranye yang dikenakannya. Ia dipajang oleh pihak kepolisian atas tindakan brutal yang menyebabkan seorang bernama David Ozora terkapar koma.
Sebelumnya,
potret dirinya wara-wiri di media sosial dengan segala simbol mewah dan kuasa. Tak
kurang dari Harley Davidson dan Jeep Rubicon dikendarainya, tentu dengan
tatapan mata dan dagu yang sedikit diangkat. Ya, dengan gaya seperti itu,
memang lebih terlihat belagu daripada santun.
Lalu, bila
kita rajin ikuti cerita yang santer beredar, rupanya ia menaruh cinta pada
seorang perempuan belia, Agnes Gracia Haryanto namanya. Seorang perempuan yang
berparas cantik. Tak keliru jika setiap lelaki muda menginginkannya. Keduanya tampak
serasi saat membagikan momen kebersamaan.
Seperti lakon
cinta yang sering tersiar di layar kaca, cinta harus ditampilkan dengan
penyerahan mutlak kehendak kepada sang cinta. Entah apa yang terjadi, Agnes
berbisik pada Mario seperti setan-setan yang membisikan rayuan kepada Adam. Terbelalak
mata Mario, bisikan itu menyengat amarahnya.
Tak lama
kemudian, ia mengatur waktu dan merancang skenario untuk merayu David agar mau keluar
bersama dirinya di mobil Rubicon, simbol mewah dan kuasa dirinya. David mengikuti
rayuan itu, awalnya ia disambut dengan penghormatan dan kemewahan. Namun,
kemudian apa yang terjadi sungguhlah akan menjadi duka lara bagi yang membaca.
Mario secara
brutal menganiaya David. Ia alirkan darah amarahnya ke kedua tangan dan kaki,
melancarkan pukulan bertubi-tubi, hingga terkapar lah David. Meskipun begitu, darah
amarah di kakinya nampaknya belum habis. Dalam keadaan lemah seperti itu, tengkuk
kepala David diinjak-injaknya, membuat David sepenuhnya tertelungkup tak
berdaya. Terakhir, darah amarah yang berhimpun di mulutnya pun dikeluarkannya
pula, dengan congkak ia berkata “free kick”, “gua gak takut anak orang mati!”.
Anak
polah bapa kepradah,
kasus ini pun menyeret kehormatan ayahnya, Rafael Alun Trisambodo. Ia memasang raut
muka yang penuh rasa penyesalan dan bersalah, memelas kepada publik
untuk memaafkan kelakuan anaknya.
***
Keterlibatan Orang Tua dalam Kehidupan Anak
Kasus Mario
adalah salah satu potret kehidupan remaja Ibu kota dengan segala dinamika
kehidupan keluarga dan sosialnya. Sungguh beruntung ia lahir di tengah keluarga
yang kaya raya, sehingga segala fasilitas tersedia untuknya. Ia menikmati jebakan
privilese yang diterimanya itu, di saat lakon pamer kuasa menjadi panggung
utama yang digandrungi masyarakat kaya.
Kasus ini
pun menyedot perhatian publik, kebanyakan dari mereka menyoroti kegagalan
pendidikan keluarga. Konon, Ibundanya pun suka berkelakuan pamer, sedangkan
ayahnya lebih banyak sibuk dengan pekerjaannya. Lalu, pelajaran apa yang dapat
diambil dari peristiwa ini? Baiklah, untuk mempersempit persepsi, maka saya
akan mengupasnya dengan pisau analisis psikologi.
Keterlibatan
orang tua dan kesuksesan anak telah lama menjadi perbincangan di kalangan
peneliti. Misalnya, hasil riset Flouri & Buchanan (2003) menyatakan bahwa keterlibatan
orang tua dalam bentuk pemberian ketentuan-ketentuan terkait
tugas belajar anak dilaporkan berpengaruh positif dengan kesejahteraan
psikologi (psychological well-being). Lebih spesifik pada tingkat dan jenis keterlibatan orang tua dalam bentuk pengasuhan yang autoritatif/demokratis
juga dilaporkan berpengaruh besar terhadap psychological well-being remaja (Cripps & Zyromski, 2009). Demikian juga, El Nokali et al., (2010) menyatakan bahwa keterlibatan orang
tua banyak mengurangi perilaku negatif dari seorang anak dan pada akhirnya
membuat anak lebih banyak terlibat dalam ruang sosial secara positif.
Sebagaimana
kajian beberapa hasil riset yang saya bawakan di atas, tampak jelas bahwa
keterlibatan orang tua berkontribusi pada dekatnya anak dengan kesuksesan yang
diharapkan, dalam hal ini adalah kesuksesan akademik dan sosial.
Menariknya,
keterlibatan orang tua ternyata tak melulu dapat berpengaruh terhadap
kesuksesan anak, sebagaimana hasil riset disertasi saya. Usut punya usut,
sebabnya adalah kerentanan akan terjadinya Intergenerational Stake,
yakni situasi dimana orang tua merasa secara berlebihan berlaku positif kepada anak,
sementara anak menanggapinya secara negatif.
Bila kita ikuti wawancara terakhir Rafael
Alun, bisa saja inilah yang terjadi. Ia mengatakan “Anak saya sulit diajak
komunikasi”. Artinya, interaksi yang dicoba dibangun oleh orang tua tidak
sejalan dengan situasi psikologis yang dialami anak. Usia remaja adalah usia
yang rentan karena individu sedang membangun depedensi dan ruang sosialnya secara
lebih otonom. Sementara, orang tua ingin terus “merawatnya”. Tak ayal, dalam
fase ini, peran keterlibatan orang tua-anak mengalami fase tersulit. Bila
terlalu dekat, maka anak terganggu otonominya, bila terlalu jauh, anak
kehilangan kontrol diri.
Kiranya,
yang dapat menjadi alternatif adalah menemukan tingkat kesesuaian antara orang
tua dan anak. Artinya, tidak ada teknik yang serta merta dapat dilakukan pada
segala kondisi di setiap keluarga. Keterlibatan orang tua-anak dapat terjalin
dengan baik secara tidak dengan tiba-tiba. Usia balita adalah usia emas bagi
orang tua untuk menumbuhkan kelekatan orang tua-anak. Kelekatan yang baik, pada
gilirannya akan membuat orang tua secara lebih mudah terlibat dalam kehidupan
anak di masa mendatang.
Lalu,
apakah dengan demikian dapat dikatakan bahwa keluarganya telah gagal mendidik
Mario? Pertanyaan ini, tak mudah dijawab. Mario tak hanya anak biologis keluarganya,
ia juga anak mental dari lingkungan sosialnya. Maka, selain di dalam relung
keluarga, di relung sosialnya lah kita mesti mencari jawabannya.
***
Kembali ke kasus Mario, tentunya, ia tak lagi dapat diperlakukan sebagai seorang anak. Ia telah dituntut untuk mempertanggungjawabkannya di muka hukum.
Daftar Rujukan
Cripps, K., & Zyromski, B. (2009). Adolescents’ Psychological Well-Being and Perceived Parental Involvement: Implications for Parental Involvement in Middle Schools. RMLE Online.
El Nokali, N. E., Bachman, H. J., & Votruba-Drzal, E. (2010). Parent involvement and children’s academic and social development in elementary school. Child Development, 81(3), 988–1005.
Flouri, E., & Buchanan, A. (2003). The role of mother involvement and father involvement in adolescent bullying behavior. Journal of Interpersonal Violence, 18(6), 634–644.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar