Social Innovation (Inovasi Sosial) dalam Pendidikan




 Social innovation telah menarik perhatian para akademisi sejak tahun 1970 (Moulaert dkk., 2013). Taylor (1970) mengungkapkan bahwa ia merasa gelisah pada bidang penelitian interdisipliner yang ditekuninya selama beberapa tahun. Kegelisahannya muncul ketika mempertanyakan bagaimana perubahan di masyarakat dapat diwujudkan dan dipelihara. Ia kemudian menggunakan istilah social innovation untuk menggambarkan fenomena sebuah dinamika pengembangan komunitas di Kansas.

Pada satu dekade terakhir, istilah social innovation kembali menarik minat peneliti. Keberagaman definisi tersebut menandakan bahwa social innovation rupanya adalah sebuah konsep multidisiplin. Sebuah konsep yang kemudian malah memiliki batasan yang kabur (Unceta dkk., 2016). Tidak adanya batasan yang jelas pada dimensi social innovation selanjutnya menimbulkan kesulitan pada pengembangan indikatornya. Maka, upaya perumusan social innovation terus dilakukan oleh para peneliti.

Definisi social innovation dapat ditelusuri dari beberapa pendekatan disiplin keilmuan. Dalam karya awalnya, pakar ekonomi Schumpeter adalah salah satu orang pertama yang menangani social innovation secara tidak langsung sebagai upaya untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dalam teorinya tentang kreatifitas yang menghancurkan (Phills Jr, dkk., 2008). Selain inovasi teknis dan pemasaran, definisi Schumpeter tentang inovasi sebagai 'kombinasi baru' juga membahas aspek organisasi dengan menekankan pentingnya kreativitas aktivitas kewirausahaan sebagai aktivitas kooperatif. Menurut Schumpeter, elemen penentu tenaga kerja kreatif diwujudkan dalam wirausahawan yang digambarkan sebagai agen perubahan ekonomi yang melakukan kombinasi baru.

Pakar sosiologi Zapf mendefinisikan inovasi sosial berdasarkan teori modernisasi secara umum sebagai praktik kemasyarakatan baru, terutama bentuk-bentuk pengorganisasian baru dan bentuk-bentuk baru pengaturan gaya hidup baru yang mengubah arah perubahan sosial, menyelesaikan masalah dengan lebih baik daripada praktik-praktik sebelumnya, dan layak untuk ditiru dan dilembagakan (Neumeier, 2012). Selain itu, ia juga menekankan tiga aspek berikut yang menurutnya penting untuk inovasi sosial seperti: kebaruan, kebaruan utama dalam persepsi subjektif individu yang terlibat, konsentrasi pada perubahan sikap (berbeda dengan inovasi teknis), dan implementasi praktis yang dihubungkan dengan keunggulan tertentu dibandingkan dengan metode tradisional sehingga peniruan metode atau solusi baru tampak masuk akal.

Sebaliknya, penelitian di bidang psikologi mencirikan inovasi sosial sebagai generasi dan implementasi ide-ide baru tentang bagaimana orang harus mengatur aktivitas interpersonal atau interaksi sosial untuk memenuhi satu atau lebih tujuan bersama (Mumford, 2002). Produk inovasi sosial bisa bermacam-macam. Mereka bisa menjadi gagasan baru tentang organisasi sosial atau hubungan sosial. Mereka mungkin melibatkan penciptaan jenis-jenis institusi sosial baru dan pembentukan ide-ide baru pemerintahan atau pengembangan gerakan sosial baru serta melibatkan penciptaan proses dan prosedur baru untuk penataan kerja kolaboratif dan pengenalan praktik-praktik sosial baru dalam suatu lingkungan, kelompok atau pengembangan praktik bisnis baru, dan ditandai dengan adanya perubahan sikap.

Bila dicermati, definisi social innovation dari ketiga pendekatan disiplin ilmu yang berbeda di atas, terdapat kesamaan bahwa perubahan dan adaptasi manusia secara meyakinkan berpijak pada system sosial (Bandura, 2003) dan tujuan sosial adalah pendorong umum dibalik diskusi tentang ap aitu inovasi sosial (Mulgan, 2006). Lebih lanjut, Huang & Han (2019) mengkategorikan social innovation menjadi 3 tipe yaitu berbasis social demand, societal challenges, and systemic change.

 

 Dimensi Social Innnovation

Cajaiba-Santana (2014) menguraikan bahwa pertama, jawaban atas suatu masalah sosial belum tentu merupakan inovasi sosial, bahkan inovasi teknis pun dapat ditujukan untuk memecahkan masalah sosial. Kedua, inovasi sosial bersifat non-material, adapun faktor material mereka semata-mata merupakan hasil pelengkap dan mereka tidak berfokus pada kebutuhan tetapi pada pembangunan asset. Oleh karena itu, inovasi sosial diwujudkan dalam perubahan sikap, perilaku, atau persepsi, yang menghasilkan praktik sosial baru. Ketiga, inovasi sosial adalah tentang perubahan sosial dan ini harus menjadi karakter utama untuk dibuktikan yang mana tidak hanya berbicara tentang perubahan dari cara agen sosial bertindak dan berinteraksi satu sama lain, tetapi juga perubahan dalam konteks sosial di mana tindakan ini terjadi melalui pembentukan institusi baru dan sistem sosial baru.

Moulaert dkk. (2013) menjelaskan bahwa social innovation memiliki karakteristik sebagaimana dapat diketahui dari 6 hal yaitu (1) bersifat mengatasi permasalahan sosial; (2) meningkatkan taraf kehidupan; (3) memuaskan kebutuhan manusia; (4) berproyeksi  ke masa depan; (5) pemenuhan eksistensi manusia; dan (6) kesetaraan dalam kehidupan bersama. Sedangkan, Kirwan dkk., (2013) membatasi social innovation pada 5 dimensi yaitu (1) kepuasan kebutuhan sosial; (2) perubahan melalui proses sosial; (3) meningkatkan kapabilitas dan akses pada sumber daya; (4) pembangunan asset individu dan komunitas; dan (5) peran komunitas sebagai agen sosial. Hal yang berbeda dirumuskan oleh The Young Foundation (2012) bahwa terdapat 5 komponen utama dari program social innovation yaitu (1) Kebaruan; (2) Berasal dari ide yang kemudian diimplementasikan; (3) memenuhi kebutuhan sosial; (4) keefektifan; dan (5) Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk bertindak.

 

 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Social Innovation

Mulgan (2006) menjelaskan bahwa terdapat beberapa tempat/keadaan yang memicu timbulnya social innovation diantaranya (1) Komunitas dengan populasi yang menua yang membutuhkan, misalnya, cara-cara baru untuk mengatur pensiun, perawatan, saling mendukung, perumahan, desain perkotaan, mobilitas, dan metode baru untuk melawan isolasi; (2) Keragaman yang berkembang di negara dan kota, yang menuntut cara-cara inovatif untuk menyelenggarakan sekolah, pelatihan bahasa, dan perumahan, untuk menghindari risiko konflik dan kebencian timbal balik; (3) Meningkatnya kejadian penyakit kronis seperti arthritis, depresi, dan diabetes; (4) Banyak masalah perilaku yang sebagian disebabkan oleh kemakmuran semakin memburuk, termasuk obesitas, pola makan yang buruk, dan ketidakaktifan, serta kecanduan alkohol, obat-obatan, dan perjudian; (5) Transisi yang sulit menuju masa dewasa dan ada kebutuhan yang sangat besar untuk membantu remaja agar berhasil menavigasi jalan mereka ke dalam karier, hubungan, dan gaya hidup yang lebih stabil; (6) Kejahatan dan hukuman di beberapa negara (termasuk Inggris Raya) menunjukkan tren baru di mana mayoritas narapidana kembali melakukan pelanggaran dalam waktu dua tahun setelah keluar dari penjara yang menggambarkan pola kegagalan yang mencolok; (7) Ketidaksesuaian antara pertumbuhan PDB dan kebahagiaan yang stagnan (dan penurunan kesejahteraan riil menurut beberapa ukuran); dan (8) Tantangan mencolok yang mengelilingi perubahan iklim seperti halnya bagaimana menata ulang kota, sistem transportasi, dan perumahan untuk secara dramatis mengurangi emisi karbon, dan bagaimana beradaptasi dengan perubahan iklim yang mungkin sudah tidak dapat diubah.

 

Daftar Rujukan

Bandura, A. 2003. Social Cognitive Theory for Personal and Social Change by Enabling Media (pp. 321–329).

Cajaiba-Santana, G. 2014. Social innovation: Moving the field forward. A conceptual framework. Technological Forecasting and Social Change, 82(1): 42–51.

Huang, C. C., & Han, K. (2019). Social innovation in child and youth services. Children and Youth Services Review, 103(June), 173–177.

Kirwan, J., Ilbery, B., Maye, D., & Carey, J. (2013). Grassroots social innovations and food localisation: An investigation of the Local Food programme in England. Global Environmental Change, 23(5), 830–837.

Moulaert, F., MacCallum, D., & Hillier, J. (2013). Social innovation: intuition, precept, concept, theory and practice. The International Handbook on Social Innovation, January 2018, 13–24.

Mulgan, G. (2006). The Process of Social Innovation. Innovations: Technology, Governance, Globalization, 1(2), 145–162.

Mumford, M. D. (2002). Social innovation: Ten cases from Benjamin Franklin. Creativity Research Journal, 14(2), 253–266.

Neumeier, S. (2012). Why do Social Innovations in Rural Development Matter and Should They be Considered More Seriously in Rural Development Research? - Proposal for a Stronger Focus on Social Innovations in Rural Development Research. Sociologia Ruralis, 52(1), 48–69.

Phills Jr, James A, Kriss Deiglmeier, Dale T. Miller. 2008. Rediscovering Social Innovation. Stanford Social Innovation Review. 6(4): 34-43.

Taylor, J. B. (1970). Introduction Social Innovation. The Journal of Applied Behavioral Science, 6(1), 69–77.

The Young Foundation. 2012. Social Innovation Overview: A Deliverable of the Project: "The Theoretical. EMpirical and Policy Foundations for Building Social Innovation in Europe" (TEPSIE). European Commission - 7th Framework Programme. Brussels: European Commision, DG Research.

Unceta, A., Castro-Spila, J., & García Fronti, J. (2016). Social innovation indicators. Innovation, 29(2), 192–204.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Pilihan

Memahami Classroom Emotional Climate (Iklim Emosional Kelas)

  Beberapa penulis telah menyelidiki aspek lingkungan belajar di berbagai sistem pendidikan. Mereka menyelidikinya dengan beragam perspektif...

Artikel Populer