Teori medan dikembangkan oleh Kurt Lewin selama 25 tahun semenjak tahun 1920-an (Marrow, 1969). Kurt Lewin menyatakan bahwa dimungkinkan untuk memahami, memprediksi, dan memberikan dasar pengubahan perilaku individu dan kelompok dengan membangun “life-space” yang terdiri dari kekuatan psikologis yang memengaruhi perilaku mereka pada titik waktu tertentu (Diamond, 1992). Teori medan Kurt Lewin menjelaskan bahwa perilaku berasal dari totalitas kekuatan yang hidup berdampingan dan saling bergantung yang menimpa seseorang atau kelompok dan membentuk ruang kehidupan di mana perilaku itu terjadi (Burnes & Cooke, 2013).
Teori Medan Kurt Lewin dibangun berdasarkan perspektif psikologi gestalt yang menyatakan bahwa individu sebagai suatu pribadi yang utuh berbeda dari sejumlah bagian-bagiannya secara terpisah dan bagian-bagian individu terpisah itu saling bergantung dan berinteraksi secara dinamis. Masih dalam perspektif psikologi Gestalt, dijelaskan bahwa perilaku individu adalah produk dari lingkungan mereka saat ini dan bagaimana individu memandang lingkungan (Martin, 2003). Lebih lanjut, dalam perspektif gestalt, perilaku bukan hanya produk dari rangsangan eksternal, melainkan muncul dari bagaimana individu merasakan rangsangan ini. Artinya, bagaimana seseorang berperilaku tidak hanya tergantung pada kekuatan yang menimpa mereka, tetapi juga pada persepsi subjektif mereka tentang “force” yang diterima. Misal, dua orang mungkin melihat atau mengalami suatu fenomena, tetapi melihatnya dengan cara yang sangat berbeda (Rock & Palmer, 1990).
Lewin (1942) menjelaskan bahwa teori Medan memiliki 6 karakteristik, yaitu (1) constructive method, membangun hubungan antara ruang kehidupan dan elemen-elemen yang mengompromikannya ke dalam konstelasi hubungan yang tak hingga antara konsep dan spesifikasi turunannya, seperti posisi psikologis dan kekuatan psikologis.; (2) dynamic approach, orang dan kelompoknya merupakan suatu sistem perilaku yang saling bergantung mengelola keseimbangan dinamis. Oleh karena itu, dengan menganalisis kekuatan-kekuatan dalam ruang kehidupan, memungkinkan untuk memahami, memprediksi dan mengubah perilaku.; (3) psychological approach, unsur-unsur ruang hidup individu atau kelompok harus didasarkan pada persepsi mereka tentang realitas mereka pada saat itu daripada berusaha mengkonstruksinya dari sudut pandang objektif seorang pengamat.; (4) analysis beginning with the situation as a whole, memahami suatu situasi dengan mempertimbangkan situasi secara keseluruhan daripada memusatkan perhatian pada satu atau dua elemen secara terpisah; (5) behaviour as a function of the field (life space) at the time it occurs, perilaku tidak disebabkan oleh sesuatu di masa lalu (atau masa depan), tetapi didasarkan pada totalitas situasi sekarang; (6) mathematical representations of the psychological situation, untuk dilihat sebagai disiplin ilmiah yang ketat, psikologi harus mewakili perilaku dalam istilah matematika.
Burnes & Cooke (2013) menjelaskan bahwa dasar pemikiran teori medan adalah keyakinan semua perilaku muncul dari kekuatan psikologis dalam ruang kehidupan seseorang dan bahwa perubahan perilaku muncul dari perubahan kekuatan ini. Oleh karena itu, untuk memahami, memprediksi, dan mulai mengubah perilaku seseorang, perlu memperhitungkan segala sesuatu tentang orang tersebut dan lingkungan persepsi atau psikologisnya untuk membangun ruang hidup orang tersebut. Teori Medan digambarkan Lewin ke dalam sebuah formula B = f (p, e). Artinya, perilaku B adalah fungsi interaksi antara orang p (atau kelompok) dan lingkungannya e. Sedangkan (p,e) didefinisikan Lewin sebagai ruang hidup individu atau kelompok (Marrow, 1969). Lebih lanjut Burnes & Cooke (2013) menjelaskan bahwa dalam kerangka teori Medan, individu dan kelompok tidak hanya menghuni satu ruang hidup, tetapi memiliki ruang hidup terpisah untuk bekerja, rumah, dan aktivitas lainnya. Jika seseorang dapat mengidentifikasi, merencanakan, dan menetapkan potensi kekuatan dalam ruang kehidupan seseorang, akan mungkin tidak hanya untuk memahami mengapa individu, kelompok, dan bahkan seluruh organisasi bertindak seperti yang mereka lakukan, tetapi juga kekuatan apa yang diperlukan. dikurangi atau diperkuat untuk membawa perubahan perilaku.
Diamond, G.A. (1992). Field theory and rational choice: a Lewinian approach to modelling motivation. Journal of Social Issues, 48, 79–94. https://doi.org/10.1111/j.1540-4560.1992.tb00885.x.
Lewin, K. (1942). Field theory and learning. In Cartwright, D. (ed.), (1952) Field Theory in Social Science: Selected Theoretical Papers by Kurt Lewin. London: Social Science Paperbacks, 60–86.
Marrow, A.J. (1969). The Practical Theorist: The Life and Work of Kurt Lewin New York: Basic Books, Inc.
Martin, J.L. (2003). What is field theory?. American Journal of Sociology, 109(1), 1–49.
Rock, I. and
Palmer, S. (1990). The legacy of Gestalt psychology. Scientific America,
263(6), 48–61.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar