Pembelajaran yang Bermakna bagi Siswa


Apakah pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru telah mampu mewujudkan kebermaknaan belajar bagi siswa? Pertanyaan ini betah menggelayuti pikiran saya. Sebabnya, saat saya bertanya kepada siswa, semisal “Nak, kamu belajar materi ini-itu tujuannya apa?”, mereka kesulitan menjawabnya. Atau, kalau tidak, mereka akan memberikan jawaban template seperti, “agar bisa menjawab soal saat ujian Pak”. Meskipun jawaban ini tak sepenuhnya salah, akan tetapi menyorongkan pembelajaran pada ujian saja tak akan cukup membuat siswa berdaya.

Lantas, apakah dengan demikian, pembelajaran telah sepenuhnya gagal memberikan makna belajar bagi siswa? Lalu, bagaimana guru dapat menghadirkan kebermaknaan belajar kepada siswa? Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, kita perlu menelusurinya ke dalam persepsi-persepsi siswa tentang kebermaknaan belajar itu sendiri. Upaya itu, setidaknya pernah saya lakukan saat menyelesaikan riset tesis dengan tema “Pemaknaan Siswa terhadap Iklim Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar”.

***

Pengertian Pembelajaran yang Bermakna

Sebagaimana yang saya sarikan dari konsep meaningful learning, pembelajaran yang bermakna adalah suatu proses belajar yang dapat mengarahkan siswa meraih kemampuan untuk menghubungkan informasi baru yang diperoleh ke dalam struktur pemahaman yang telah terbentuk dan dapat digunakannya untuk mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Kebermaknaan belajar ditandai dengan terjadinya hubungan substantif antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa, baik dalam bentuk hubungan-hubungan yang bersifat derivatif, elaboratif, korelatif, suportif, maupun kualitatif (Ausubel dalam Prastowo, 2013).

Kaitannya dengan pertanyaan di awal, hasil riset saya menunjukkan bahwa kebermaknaan belajar dipersepsikan siswa berdasarkan pengorganisasian tema, muatan pelajaran dan materi pembelajaran yang padu, penyusunan bahan ajar yang praktis dan menarik, penggunaan pendekatan saintifik, penggunaan kalimat poster yang operasional, keterampilan mengajar guru, dan penerapan asesmen autentik.

***

Pengorganisasian Tema

Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar sebenarnya sangatlah tepat karena memberikan pengalaman belajar yang holistik kepada siswa. Sayang, ini tak dapat berjalan lancar karena kemampuan guru yang terbatas dalam penerapannya. Kunci keberhasilan pembelajaran tematik terletak pengorganisasian tema secara tepat dengna memperhatikan keterpaduan antara muatan pelajarna dan materi pembelajaran. Dalam temuan riset saya waktu itu, pengaitan beberapa mata pelajaran ke dalam sebuah tema berhasil memberikan kebermaknaan belajar bagi siswa.

Misalnya, melalui tema pembelajaran cita-cita, indahnya alam negeriku, dan budaya Indonesia siswa mampu membangun skemata baru seperti, merepresentasikan profesi yang diidamkan, mengenali keunggulan dan keindahan alam di sekitar lingkungan rumah dan sekolahnya, serta mengenali sekaligus terlibat dalam merawat budaya-budaya lokal.

Bagi teman-teman yang ingin merancang pembelajaran tematik, kiranya dapat memperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian tema sebagaimana dijelaskan oleh Hajar (2013) yakni, (1) memperhatikan potensi lingkungan terdekat siswa; (2) memilih tema termudah menuju tema tersulit; (3) memilih tema yang sederhana hingga tema yang paling kompleks; (4) memilih tema yang bersifat konkret hingga tema yang bersifat abstrak; (5) menyusun tema dapat mendorong proses berpikir siswa; dan (6) sesuai dengan usia, perkembangan, dan kemampuan siswa.

Bahan Ajar

Setiap pembelajaran tak lepas dari pemanfaatan bahan ajar. Bahan ajar yang dapat memberikan makna belajar bagi siswa adalah bahan ajar yang praktis dengan menyajikan ilustrasi yang menarik. Bagi teman-teman pembaca blog yang ingin mengembangkan bahan ajar yang praktis, berikut adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan kepraktisan bahan ajar yang perlu diperhatikan, yakni : (1) kemudahan memahami petunjuk penggunaan bahan ajar; (2) kemudahan memahami materi yang disajikan; (3) pembahasan yang digunakan komunikatif; (4) kejelasan instruksi untuk setiap tugas kegiatan; (5) kepraktisan dalam menerapkan langkah pembelajaran yang disajikan dalam bahan ajar; (6) kesesuaian seluruh kegiatan pembelajaran dengan alokasi waktu; (7) kesesuaian evaluasi dengan sajian materi dan aktivitas pembelajaran dalam bahan ajar (Khair, 2014). Sedangkan, ilustrasi gambar dapat dipilihkan yang sesuai dengan tingkat usia pembaca.

Metode Pembelajaran Berpendekatan Saintifik

Selanjutnya, kebermaknaan belajar dapat tercipta melalui metode pembelajaran berpendekatan saintifik. pendekatan saintifik dapat membuat siswa lebih memahami pembelajaran karena mereka dihadapkan pada fakta (tidak berdasar pada asumsi dan perkiraan semata) yang ada dengan urutan kegiatan yang dapat diikuti secara seksama meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring.

Keterampilan Mengajar Guru

Selain berpendekatan saitinfik, pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang berpendekatan student centered. student centered bukan berarti memasrahkan begitu saja pembelajaran kepada siswa sementara guru hanya diam mengamati. Akan tetapi, guru tetap berperan aktif dan bahkan dituntut terampil dalam merancang dan mengorkestrasi pembelajaran.

Mengenai hal itu, mungkin kita lupa, maka ada baiknya kita membaca kembali 8 keterampilan dasar mengajar yang perlu dikuasai oleh seorang guru sebagaimana Turney dalam Majid (2013) yaitu: (1) keterampilan bertanya; (2) keterampilan memberikan penguatan; (3) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan; (4) keterampilan menjelaskan; (5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran; (6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil; (7) keterampilan mengelola kelas; dan (8) keterampilan mengadakan variasi, baik variasi dalam gaya mengajar, penggunaan media dan bahan pelajaran, dan pola interaksi dan kegiatan.

Asesmen Autentik

Proses belajar siswa bila kita nilai dengan bias maka akan memunculkan ketidakadilan. Sementara itu, proses penilaian yang tidak berdasarkan fakta yang terjadi di kelas akan membuat siswa kebingungan menetapkan pilihan-pilihan tindakan belajarnya. Oleh karena itu, pembelajaran yang bermakna mensyaratkan adanya proses penilaian secara faktual atau disebut asesmen autentik. Bentuk-bentuk asesmen autentik yang mengarah pada kebermaknaan belajar meliputi penilaian teman sejawat, penilaian terhadap keseluruhan tugas, penilaian terhadap sikap sewaktu mengikuti pembelajaran, dan penilaian terhadapa keterampilan saat percobaan dan presentasi di kelas.


Daftar Rujukan

Hajar, Ibnu. 2013. Panduan Lengkap Kurikulum Tematik untuk SD/MIJogjakarta: Diva Press.

Khair, Baiq Niswatul. 2014. Pengembangan Bahan Ajar IPA Berbasis Inkuiri Untuk Siswa Kelas V SD. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPs UM.

Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Prastowo, Andi. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Jogjakarta: DIVA Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Pilihan

Memahami Classroom Emotional Climate (Iklim Emosional Kelas)

  Beberapa penulis telah menyelidiki aspek lingkungan belajar di berbagai sistem pendidikan. Mereka menyelidikinya dengan beragam perspektif...

Artikel Populer