Sudah barang tentu, setiap praktik pendidikan formal, melangsungkan pembelajarannya di ruang kelas. Kurikulum yang silih berganti, ruang aktualisasinya juga di ruang kelas. Riset-riset pendidikan terhebat pun, diambil dari ruang kelas dan kembali pula ke ruang kelas. Oleh karenanya, semoga tak berlebihan bila saya menyebut ruang kelas sebagai “susuhe kawruh” atau sarangnya ilmu.
Peran
sentral ruang kelas selayaknya dipersiapkan dengan baik oleh para guru sebagai
juru kuncinya. Agar, setiap siswa yang datang menghadiri sajian-sajian ilmu
merasa betah berlama-lama di ruang kelas. Bukannya sebentar-sebentar mengangkat
tangan untuk izin ke kamar mandi yang nyatanya adalah nongkrong di kantin sekolah.
Betahnya
siswa menandakan bahwa ruang kelas merupakan tempat yang nyaman bagi mereka.
Dalam hal ini, kenyamanan adalah ekspresi perasaan penghuni ruang yang menunjukkan
kepuasan terhadap lingkungan fisik ruang kelas.
Sebagaimana
hasil riset yang pernah saya lakukan, ruang lingkup lingkungan fisik ruang
kelas dapat dibatasi pada kebersihan kelas, intensitas pencahayaan, tingkat
suhu ruang, ergonomi dan penataan tempat duduk, dan tingkat kebisingan kelas
(bagi teman-teman yang ingin membaca artikelnya secara utuh dapat diunduh
disini)
***
Kebersihan
Kelas
Ruang kelas
dengan penataan perabot dan meja kursi yang rapi serta lantai yang bersih akan
berdampak pada daya tahan konsentrasi siswa yang tinggi. Sebaliknya, penataan
perabot yang berantakan dan lantai yang kotor berdebu akan membuat siswa merasa
risih, terganggu, tak berdaya, kewalahan, dan stress.
Kaitannya
dengan hal itu, Carter (2012) secara rinci menjelaskan bahwa keadaan lingkungan
fisik yang berantakan dapat mengakibatkan stres karena 8 hal, (1) keadaan
berantakan memaksa indra visual, penciuman, dan sentuhan kita untuk secara
berlebihan meresponnya; (2) keadaan berantakan dapat menjadi distraksi dengan
mengalihkan perhatian kita dari apa yang seharusnya dilakukan; (3) keadaan
berantakan menyulitkan kita untuk relaksasi baik secara fisik maupun mental;
(4) keadaan berantakan secara konstan mengirimkan sinyal kepada otak kita bahwa
ada pekerjaan yang belum selesai; (5) keadaan berantakan membuat kita cemas
karena menumpuknya pekerjaan; (6) keadaan berantakan menciptakan perasaan
bersalah dan rasa malu; (7) keadaan berantaka menghambat kreativitas dan
produktivitas; dan (8) keadaan berantakan menghambat kita untuk mendapatkan
barang yang kita butuhkan.
Oleh karena
itu, kebersihan ruang kelas tak boleh disepelekan. Piket kelas perlu terus
digiatkan. Beruntung bila penataan ruang kelas diubah setiap semester sekali
atau bahkan setiap tema pembelajaran. Hal itu akan membuat siswa secara berkala
merasakan sensasi baru sehingga tingkat kebosanannya dapat ditekan.
***
Intensitas
Pencahayaan dan Suhu Ruang
Suatu
ketika saya pernah masuk ke dalam ruang kelas dengan jendela kaca yang lebar.
Deretan ruang kelasnya membujur dari utara ke selatan. Setiap pagi, sinar
matahari menyorot tajam ke ruang kelas menyebabkan pandangan silau. Terlebih
saat sinarnya mengenai papan tulis. Meskipun untuk beberapa saat dapat diatasi
dengan menutup kelambu jendela, namun situasi seperti itu tentu mengganggu aktivitas
belajar siswa.
Sementara
itu, saat siang hari, situasi kelas semakin sulit karena siswa merasa panas dan
gerah. mereka berkipas-kipas sambil mendengarkan penjelasan guru. Hartawan
(2012:14) menjelaskan
bahwa kenaikan suhu pada ruang dapat mengakibatkan (1) rasa lelah yang diikuti
dengan hilangnya efisiensi kerja mental dan fisik; (2) denyut jantung
meningkat; (3) tekanan darah meningkat; (4) aktivitas alat pencernaan menurun;
(5) suhu inti tubuh meningkat; (6) aliran darah ke kulit juga meningkat; dan
(7) produksi keringat meningkat.
Dapat dibayangkan, betapa sulitnya siswa menghadapi situasi itu, apalagi setiap
hari.
Sehingga, Pembangunan
ruang kelas perlu memperhatikan kedua hal tersebut, yakni intensitas cahaya
yang cukup dan suhu ruang yang terjaga. Secara spesifik, Idrus (2016) menjelaskan bahwa tingkat intensitas pencahayaan alami minimal dalam kelas 11,80 lux, intensitas cahaya maksimum 145,80
lux dan pencahayaan rata- rata 63,47 lux. Sedangkan, kaitannya dengan suhu ruang, Lippsmeir
dalam Hartawan (2008) menjelaskan
bahwa suhu ruang yang nyaman berkisar pada suhu udara 22,5º–29º C.
***
Ergonomi
dan Penataan Tempat Duduk
Ruang kelas
dengan penataan tempat duduk yang tepat dapat membuat siswa lebih
berkonsentrasi dalam belajar. Penataan tempat duduk meliputi penentuan space
atau ruang gerak siswa, aksesibilitas, dan model penataan tempat duduknya. Sebagaimana
hasil riset Perkins dan Wieman (2005), penataan ruang gerak yang renggang terbukti membuat siswa lebih merasa
nyaman.
Sementara
itu, model penataan tempat duduk akan lebih baik bila dilakukan variasi.
Misalnya, setiap senin model tradisional, lalu hari-hari selanjutnya diubah
membentuk letter U, letter O, letter L, dan sebagainya. Dalam penataan tempat
duduk disini ada yang menarik bahwa posisi tempat duduk siswa terutama dalam
model tradisional dapat mempengaruhi partisipasi siswa (Montello, 1988). Tagliacollo
(2010) sesuai dengan hasil
risetnya melaporkan bahwa siswa yang memiliki performansi yang baik
cenderung memilih tempat duduk di dekat papan tulis.
Oleh karena
itu, penataan tempat duduk berikut dengan pengaturan posisi duduk siswa perlu
diatur dengan memperhatikan aspek keadilan bagi setiap siswa. Cox et. al. (2012) mengingatkan
bahwa siswa yang memiliki kemampuan dan motivasi belajar rendah, perlu diposisikan di bangku paling depan agar siswa
tersebut memiliki peluang belajar lebih banyak.
Disamping
itu, yang perlu diperhatikan dari tempat duduk siswa tidak hanya soal model
penataan dan posisinya, namun juga ergonomi kursi dan mejanya. Suryani, et. al. (2012) menjelaskan bahwa
sikap duduk siswa meliputi sikap duduk ergonomi dan tidak ergonomi. Sikap duduk
yang tidak ergonomi dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman, mengantuk dan
kelelahan secara keseluruhan.
Hal itu dapat berakibat pada gangguan dalam proses belajar dan
menurunnya konsentrasi siswa. Sebaliknya,
meja kursi siswa yang ergonomis dapat membuat siswa merasa nyaman dalam
mengikuti pembelajaran di kelas.
***
Tingkat
Kebisingan Kelas
Terakhir, polusi suara atau tingkat kebisingan kelas. Beberapa sekolah yang saya temui lebih banyak berada di pinggir jalan raya. Saat saya masuk ke ruang kelas, raungan motor yang berlalu-lalang masih terdengar keras. Hal itu sungguh mengganggu siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru. Tak hanya itu, jarak antar ruang kelas yang dekat juga cukup mengganggu pembelajaran. Padahal, menurut Shield (2007) kelas yang bising dapat menyebabkan turunnya kemampuan mengingat siswa, motivasi, dan kemampuan membaca. Oleh karena itu, upaya untuk menurunkan tingkat kebisingan perlu terus dilakukan agar membuat siswa merasa nyaman dan lebih mudah memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
Daftar Rujukan
Carter, Sherrie Bourg. 2012. Why Mess Causes Stress: 8 Reasons, 8 Remedies. Diakses tanggal 4 Juni 2023 dari Why Mess Causes Stress: 8 Reasons, 8 Remedies | Psychology Today
Cox, Jacob., Jason Cody, Jesse Flaming, dan Matthew Miller. 2012. Seat Assignment Contribution to Student Performance in an Information Technology Classroom. Makalah disajikan pada 2012 ASEE Northeast Section Conference, University of Massachusetts Lowell, 27-28 April 2012.
Hartawan, Anton. 2012. Studi Pengaruh Suhu Terhadap Kecepatan Respon Mahasiswa Di Ruang Kelas Dengan Metode Design Of Experiment. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Teknik. Universitas Indonesia: Depok.
Idrus, I dkk. 2016. Intensitas Pencahayaan Alami Ruang Kelas Sekolah Dasar Di Kota Makassar. Tesis. Tidak Diterbitkan. Fakultas Teknik. Universitas Hasanuddin: Makassar.
Montello, Daniele R. 1988. Classroom Seating Location and Its Effect on Course Achievement, Participation, and Attitudes. Journal of Environmental Psychology, 8: 149-157.
Perkins, Khaterine K. dan Carl E. Wieman. 2005. The Surprising Impact Of Seat Location on Student Performance. The Physic Teacher, Vol 43(1): 30-33.
Shield, Bridget & Dockrell, Julie. (2008). The effects of environmental and classroom noise on the academic attainments of primary school children. The Journal of the Acoustical Society of America, 123(1): 133-44.
Suryani, Yuli, Yamtana, dan Purwanto. (2012). Hubungan Tingkat Ergonomi Kursi Dengan Tingkat Konsentrasi Belajar Siswa Di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lendah Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Simposium Nasional RAPI XI FT UMS, XI.
Tagliacollo, Victor Alberto., Gilson Luiz Volpato, dan Alfredo Pereira Junior. 2010. Association of Student Position in Classroom and School Performance. Educational Research, 1(6): 199-201.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar