Kali ini saya ingin membagikan orasi ilmiah yang saya sampaikan pada Wisuda ke-39 Universitas Tribhuwana Tunggadewi pada tanggal 23 Juli 2022 dengan judul Pendidikan Pada Akhirnya.
Saya terbitkan pertama kali di blog ini. Singkatnya, pada kesempatan itu saya ingin mengajak para wisudawan untuk tidak berhenti belajar memperdalam keahlian hingga menjadi seorang spesialis dan rela berjejaring untuk menopang peradaban Indonesia menuju peradaban yang gilang gemilang. Semoga makna-makna yang saya bawakan turut menyerap di sanubari pembaca.
Bismillahirahmanirrahim
Yth. Ketua LLDIKTI VII wilayah Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M.
Yth. Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Patria Nusantara beserta anggota
Yth. Dewan Pengurus Yayasan Bina Patria Nusantara beserta anggota
Yth. Dewan Pengawas Yayasan Bina Patria Nusantara beserta anggota
Yth. Ketua Senat Universitas Tribhuwana Tunggadewi beserta anggota
Yth. Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi beserta jajarannya
Ysh. Bapak/Ibu dosen dan tenaga kependidikan Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Ysb. Seluruh wisudawan beserta orang tua dan keluarga yang berbahagia
Yth. Ketua Senat Universitas Tribhuwana Tunggadewi beserta anggota
Yth. Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi beserta jajarannya
Ysh. Bapak/Ibu dosen dan tenaga kependidikan Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Ysb. Seluruh wisudawan beserta orang tua dan keluarga yang berbahagia
Assalamualaikum Wr. Wb.
Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur, Alhamdulillahirabbil’alamin, dan terima kasih kepada pimpinan universitas yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyampaikan pandangan-pandangan saya dalam orasi ilmiah kali ini. Orasi ilmiah saya berjudul “Pendidikan Pada Akhirnya”
Senat Universitas yang Mulia dan Hadirin yang berbahagia
Sesuai dengan momen wisuda kali ini, teristimewa untuk para wisudawan, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk kembali melihat sisi kemajuan umat manusia dan merayakan proses pendidikan yang telah rekan-rekan lalui, karena 4 tahun belajar di dalam dinding-dinding ruang kelas, bila tidak disegarkan dengan fenomena peradaban manusia, bisa saja, keilmuan saudara meskipun subur, mungkin tak bisa berbuah.
Rabu, 20 Juli 2022 yang lalu, saat saya berhenti di perempatan lampu merah Jl. Sigura-gura, saya melihat tupai yang menyeberangi arus lalu lintas yang padat dengan cara merayap di kabel-kabel yang terpasang di kedua sisi jalan. Tupai itu berhasil menyeberanginya dengan selamat. Tupai itu setidaknya memiliki tujuan, sehingga ia berpindah tempat dan tupai itu memilih merayap di kabel-kabel daripada melewati jalan lain—tentunya, selain lebih jauh dari tempat tujuan yang ingin dicapai, juga membahayakan keselamatannya. Sejenak saya berpikir apakah hewan juga memiliki kecerdasan? Namun, pikiran itu saya bantah sendiri, bahwa meskipun hewan bisa mengatasi kebutuhannya namun sejak keberadaannya di dunia hewan tidak membangun peradaban. Seperti halnya tupai tadi.
Hal itu sungguh berbeda dengan manusia. Manusia mampu menciptakan peradabannya. Dan inilah pembeda manusia dengan spesies lainnya. Seperti yang kita alami, saat ini segala akses kehidupan tersedia dan terjangkau. Tidaklah muluk bila kita katakan bahwa kehidupan manusia saat ini lebih baik daripada kehidupan di masa lalu. Artinya, kehidupan manusia lambat atau cepat mengarah kepada kemajuan peradaban.
Agar jelas, saya contohkan dengan permisalan yang saya adaptasikan dari Ridley. Utamanya tentang keterjangkauan produk yang menopang kehidupan berkat adanya kecerdasan spesialis-kolektif. Saat saya menulis orasi ilmiah ini, saya mengetik di papan ketik yang terbuat dari plastik dan aluminium yang dibagian bawahnya tertulis made in China, dengan perangkat cerdas bermerk intel yang dikembangkan di Amerika. Di dalam seperangkat laptop itu, kita bisa memanfaatkan hasil kerja dari beberapa ahli dari beberapa negara. Yang mengejutkan, saya dengan mudah membelinya di Kota Malang. Bayangkan bila tidak ada kecerdasan spesialis, setiap produk yang kita inginkan, kita harus membuatnya sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah Berapa jumlah riset yang harus kita lakukan? Berapa besar anggaran untuk mengcovernya? Dan kita juga perlu memikirkan, seberapa kuat resiliensi kita untuk melalui riset itu dengan kegagalan saat uji cobanya?. Namun dengan mudahnya, kita mendapatkan laptop hanya setara dengan gaji 2 bulan bekerja saja, dan istimewanya lagi, pekerjaan itu sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing.
Dengan kata lain, karyawan pabrik di Kota Malang yang sama sekali tidak memahami bagaimana laptop diciptakan, ia dengan mudah dapat memilikinya hanya dengan 2 bulan ia bekerja sebagai karyawan pabrik, bukan sebagai pengembang perangkat laptop. Demikian pula, petani di pelosok desa, yang bahkan sama sekali tidak memahami untuk apa laptop difungsikan, mereka bisa membelikan untuk anak-anaknya yang sedang berkuliah di kota hanya dengan menunggu 1 kali panen. Padahal bila kita mau memikirkannya sekali lagi, ada berapa penemuan yang tersemat di dalam sebuah laptop, ada berapa peneliti yang terlibat di dalamnya, dan berapa milyar dana yang digelontorkan untuk membangun laboratorium riset, pabrik, menggaji karyawan, dan memanjakan penelitinya?.
Contoh lain yang lebih sederhana adalah baju yang sehari-hari kita pakai, yang membuat kita tampil lebih percaya diri, Bayangkan, dari perkebunan kapas manakah baju yang kita pakai hari ini? Di pabrik mana kapas itu kemudian dipintal? Dan di garmen manakah baju kita ditenun, dijahit, dibentuk sedemikan rupa? Kita sama sekali tidak mengetahuinya, namun dapatlah kita yakini bahwa di dalam baju yang kita pakai, ada ribuan tangan yang terlibat di dalamnya, mulai yang menanam dan memanen kapas, memintal, menenun hingga menjahitnya, yang dengan mudahnya kita bisa dapatkan 1 baju hanya dengan setara 1 hari bekerja sebagai buruh pabrik di Kota Malang.
Tidak berhenti di situ, mari kita gali kembali, bagaimana keadaan manusia yang hidup 5000 SM dimana tekstil baru saja mulai ditemukan, bagaimana rupa kain yang digunakan, berapa lama waktu yang dibutuhkan manusia pada waktu itu hanya untuk membuatkan 1 baju untuk anaknya? Dan lihatlah sekarang, hanya dengan berbelanja di Mall atau dengan scrolling di e-commerce kita memiliki akses untuk mendapatkan beragam pilihan baju berdasarkan jenis kain, dari katun hingga sutra, berikut dengan merk pembuatnya. Permisalan serupa juga berlaku untuk penemuan-penemuan lainnya, yang karena keterbatasan waktu, tidak dapat saya jelaskan disini. Sungguh, inilah kemajuan peradaban itu yang membedakan kita manusia dengan spesies lainnya. Sekali lagi berkat adanya kecerdasan spesialis-kolektif. Demikianlah rekan-rekan, umat manusia dan kemajuan peradabannya, Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT telah memilih kita, umat manusia, untuk menjadi khalifah, mengatur dan berperadaban di muka bumi. Tak lain berkat adanya akal yang tersemat di dalam kepala kita masing-masing.
Dewan Senat yang Mulia dan Hadirin yang berbahagia
Sebagaimana yang baru saja kita lakukan, bila ingatan kita arahkan jauh ke belakang, lalu kita tarik ingatan itu hingga saat ini, maka kita bisa melihat, betapa hebatnya laju peradaban umat manusia. Lalu pertanyaannya, bagaimanakah itu dapat terjadi? Bagaimanakah kecerdasan spesialis-kolektif itu terbentuk? Jawabannya tak lain adalah berkat adanya proses pendidikan di antara umat manusia itu sendiri. Sebagaimana Yudi Latif, pendidikan adalah benih harapan. Ketika umat manusia dilanda kekacauan, keterbelakangan, dan kemandegan, pendidikan selalu menjadi ruang temu bagi gagasan-gagasan yang dapat menjelma menjadi senjata pamungkas untuk mengatasi permasalahan hidup umat manusia. Maka berkaca dari kenyataan itulah, saya simpulkan bahwa pendidikan pada akhirnya adalah usaha merawat kecerdasan spesialis-kolektif melalui tindakan emansipasi. Emansipasi dalam hal ini adalah pembebasan dari kebodohan, keterbelakangan dan transendensi dari hal-hal yang instrumentalis.
Mari kita simak bersama, lintasan peradaban umat manusia kiranya dapat dibagi ke dalam 4 periode, (1) periode pemburu-pengumpul (masyarakat nomaden, mulai membuat api, alat-alat berburu), (2) periode bertani (teknologi bercocok tanam, pengenalan musim tanam dan panen), (3) periode industri massal (penemuan mesin uap, penemuan generator listrik) dan (4) periode industri komputasi (banjir informasi). Dari rentang sejarah peradaban itu, tampaknya penemuan alat selalu membuat pekerjaan lebih cepat terselesaikan dan dengan volume yang lebih besar. Namun, benarkah hanya karena adanya alat yang instrumentalis itu? Bila kita cermat, pada kenyataannya adalah tidak. Munculnya berbagai penemuan instrumentalis tadi, mulanya dipicu oleh gagasan-gagasan filosofis seperti yang disampiakan Francis Bacon, Rene Descartes, dan Galilelo Galilei. Yang singkat ceritanya adalah berkat gagasan mereka umat manusia di barat mulai mengoptimalkan fungsi akalnya untuk menjelajah dunia, memahaminya, menemukan bukti ilmiah, dan menciptakan penemuan-penemuan baru revolusioner.
Selain itu, hasil riset dari Schneider dan Hofreither (1986) dapat pula kita pertimbangkan. Ia menjelaskan bahwa kemajuan peradaban ditandai dengan adanya transformasi masyarakat menuju industrialisasi yang setidaknya mengalami 8 gejala (1) terjadinya pembagian kerja dalam proses industri; (2) adanya etos kerja; (3) mekanisme proses produksi; (4) pemecahan masalah secara ilmiah; (5) disiplin waktu dan pengupahan berjenjang; (6) birokrasi dan administrasi yang tertib teratur; (7) fleksibilitas tenaga kerja; dan (8) tumbuhnya semangat berproduksi. Dengan demikian maka cukup jelas, bahwa penemuan alat dan sistem produksi massal – yang mana ini berintikan instrumentalis-keteknikan – tidak dapat serta merta menjadi faktor penentu kemajuan peradaban bila tidak digerakkan oleh sikap-kejiwaan filosofis yang menopang daya cipta, trust, etos kerja, kreativitas, inovasi, disiplin, keteraturan, dan perencanaan (Latif, 2020).
Oleh karena itu, perlu ditekankan disini bahwa produk pendidikan tidak melulu soal-soal yang instrumentalis. Soal-soal yang keteknikan. Namun lebih dari itu adalah soal-soal yang berkenaan dengan sikap-kejiwaaan filosofis. Dalam bingkai pemikiran inilah, dengan rasa bangga saya ucapkan selamat kepada rekan-rekan yang hari ini telah diwisuda bahwa rekan-rekan telah teremansipasikan dengan bekal kecerdasan spesialis masing-masing.
Manusia-manusia yang teremansipasi disebut Immanuel Kant sebagai manusia yang telah mencapai Mundig. Manusia yang telah bebas, berakal matang dan dewasa yang telah mampu membuat pilihan, memutuskan dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Manusia yang telah mencapai Mundig, ia tak lagi rela menyerahkan masa depannya kepada orang lain, jalannya tak mau lagi dituntun oleh pikiran-pikiran dan kepentingan-kepentingan orang lain. Ia merdeka dengan pilihannya sendiri. Dalam kemerdekaannya ia mencapai kebahagiaan hidup. Inilah yang disebut oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah upaya mangaju-aju salira, mengaju-aju bangsa, mangaju-aju manungsa yaitu membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, dan membahagiakan manusia.
Namun, perlu diingat, dalam kebebasannya, setiap insan yang Mundig bukan berarti berjalan sendiri-sendiri. Karena dalam diri manusia yang Mundig terdapat Lebenswelt, sebagaimana Habermas, yaitu jiwa yang memiliki kepercayaan, keyakinan dan pengetahuan. Di antara Lebenswelt itulah manusia-manusia akan membangun kecerdasan spesialisnya dan menjalin interaksi kolaboratif. Akhirnya di dalam interaksi kolaboratif itulah akan melahirkan kecerdasan kolektif. Sehingga, sebagaimana gambaran yang telah saya sebutkan di awal, dengan kecerdasan spesialis-kolektif, setiap orang bisa bekerja sesuai dengan bidang keahliannya dan mendapatkan segala produk yang diinginkan untuk menopang kehidupannya.
Inilah yang sejatinya dikatakan oleh Adam Smith, “bekerja sedikitnya, mendapatkan sebanyak-banyaknya”. Dalam makna bahwa dengan adanya kecerdasan kolektif, yang ditopang oleh kecerdasan spesialis masing-masing manusia yang telah teremansipasikan, maka setiap manusia hanya perlu bekerja sedikit dalam arti bekerja sesuai keahliannya . Dan hasil kerja itu dapat ia tukarkan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya, dalam arti mendapatkan segala fasilitas yang tersedia untuk memenuhi segala kebutuhannya. Perlu diingat dengan 1 kali gaji karyawan di Kota Malang, ia dapat menukarkannya dengan ribuan pilihan produk di pusat-pusat perbelanjaan yang ia tak mungkin mampu mendapatkannya bila harus menciptakan sendiri masing-masing produk itu. Sekali lagi, inilah gambaran keajaiban kecerdasan spesialis-kolektif yang mana rekan-rekan akan menjadi bagian didalamnya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, saya berpesan kepada rekan-rekan semua meskipun hari ini telah diwisuda, untuk tidak berhenti mendidik dirinya sendiri, terus menggali kecerdasan spesialisnya, dan rela bergotong royong menopang kecerdasan kolektif yang telah memajukan peradaban manusia selama ini.
Senat Universitas yang Mulia dan Hadirin yang berbahagia
Demikianlah orasi singkat saya, semata-mata untuk turut merayakan kelulusan rekan-rekan wisudawan dan para orang tua yang hari ini hadir mendampingi putra-putrinya dengan penuh rasa bangga. Sebelum orasi saya tutup, izinkan saya berpantun
Beli buah di pasar turi, jika ingin kuliah, jangan ragu memilih unitri
Soto berkuah ditaburi seledri, meskipun murah, kualitas mumpuni
Selamat Berkiprah, teruslah berkarya!
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Daftar Rujukan
Latif, Yudi. 2020. Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ridley, Matt. 2021. Optimis Rasional. Terjemahan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Schneider, F. and Hofreither, M. (1986), Measuring the Size of the Shadow Economy. Economic Affairs, 7: 18-23.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar