Pembelajaran yang Menyenangkan bagi Siswa




Saya pikir logis, bila semua guru ingin berhasil menyajikan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat siswa merasakan lebih banyak emosi positif, meningkatkan kemampuan kognisi, meningkatkan pemahaman materi, dan meraih prestasi belajar. Hanya saja, sejauh pengamatan saya, dalam prakteknya masih banyak guru maupun mahasiswa calon guru yang memaknai pembelajaran menyenangkan sebatas pembelajaran yang mengundang tawa bagi siswa, alias pembelajaran berbasis humor.

Penggunaan humor telah secara luas digunakan oleh para guru di ruang kelas. Biasanya, digunakan saat suasana kelas sedang jenuh. Seperti kita ketahui, daya tahan atensi siswa tak mampu bertahan lama. Saat mereka melewati batas kemampuan atensinya, siswa cenderung kesulitan baik saat menyerap materi maupun mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam situasi seperti itu, humor digunakan oleh guru.

Akan tetapi, humor bukanlah pembelajaran menyenangkan itu sendiri. Menyempitkan makna pembelajaran menyenangkan hanya sebatas dengan hal-hal yang lucu atau humoris akan mengeringkan keberlimpahan sumber daya belajar.

Berdasarkan riset yang pernah saya lakukan, selain humor, pembelajaran menyenangkan dapat diwujudkan melalui pembelajaran berpendekatan saintifik dan metode belajar kelompok (kooperatif). Pembelajaran berpendekatan saintifik adalah pembelajaran dengan melibatkan siswa untuk turut serta aktif melalui tahapan pembelajaran seperti mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring.

Sebagaimana dikutip dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2013), pembelajaran berpendekatan saintifik dapat memfasilitasi siswa untuk lebih mudah memahami materi pembelajaran. Terutama di sekolah dasar, hubungan pembelajaran berpendekatan saintifik terhadap kemampuan belajar siswa bertalian kuat karena sesuai dengan karakteristik siswa yang masih dalam tahap berpikir holistik dan konkret.

Artinya, dalam perspektif ini, pembelajaran menyenangkan adalah sebuah pembelajaran yang memunculkan gairah belajar untuk penguasaan suatu kemampuan ataupun keterampilan. Siswa tak hanya diajak tertawa, namun juga diajak menemukan minat belajarnya sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan penuh antusias. Disinilah batas antara makna pembelajaran menyenangkan yang benar dan yang salah kaprah dapat diketahui. Bahwa menyenangkan berarti siswa senang melakukan tindak belajar.

Selanjutnya, pembelajaran menyenangkan juga dapat diwujudkan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menekankan adanya tindak kolaboratif ataupun kerjasama diantara anggota kelompok belajar. Persepsi senang belajar bagi siswa dalam model kooperatif terjadi pada saat siswa bertukar gagasan dan aktif berpartisipasi untuk mencapai target kelompok. Dalam keseluruhan kegiatan itulah, siswa secara tidak sadar membangun komunitas belajarnya.

Artinya, dalam perspektif ini, pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa membentuk komunitas belajar. Perlu diingat bahwa makna komunitas belajar lebih dalam daripada ruang kelas ataupun kelompok belajar. Misalnya dapat diibaratkan dengan komunitas burung. Orang-orang yang tergabung ke dalam komunitas itu, mereka akan sangat antusias pada setiap pertemuan, saling berbagi pengetahuan, mendapatkan penghargaan dari komunitas, dan merasa bangga menjadi bagian dari komunitas. Saya kira, perumpamaan itu dapat digunakan untuk memaknai komunitas belajar yang saya maksudkan di atas.

Dengan demikian telah cukup jelas bahwa pembelajaran menyenangkan yang berpengaruh pada kebermaknaan dan prestasi belajar siswa adalah pembelajaran yang didalamnya mengandung kegiatan-kegiatan belajar yang mengarah pada munculnya antusiasme dan mengarah pada terbentuknya komunitas belajar.


Daftar Rujukan

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Dan
Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
2013. Konsep Pendekatan Saintific. Jakarta: Kemendikbud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Pilihan

Memahami Classroom Emotional Climate (Iklim Emosional Kelas)

  Beberapa penulis telah menyelidiki aspek lingkungan belajar di berbagai sistem pendidikan. Mereka menyelidikinya dengan beragam perspektif...

Artikel Populer