Student Well-being tengah menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan kita. Frasa itu pun muncul dalam Peraturan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud RI, No. 3813/B.B1/HK/2020 yang menyatakan bahwa calon kepala sekolah harus mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam menggerakkan warga sekolah untuk membantu penyelesaian masalah pembelajaran di sekolah, yang bermuara pada terwujudnya student well-being. Lalu, bagaimana Student Well-being dapat dipahami?
Seligman & Csikszentmihalyi (2000) mendefinisikan psikologi positif sebagai studi ilmiah tentang fungsi manusia yang positif dan berkembang pada beberapa tingkat yang mencakup biologi, personal, relasional, kelembagaan, budaya, dan dimensi global hidup. Tujuannya adalah mengidentifikasi dan meningkatkan kekuatan dan kebajikan manusia yang membuatnya dapat hidup dengan layak dan memungkinkan individu dan masyarakat untuk berkembang. Psikologi positif bermaksud untuk menginisiasi perubahan dalam psikologi sebagai ilmu sosial, perubahan yang dapat menyebabkan reorientasi dan peralihan dari secara ekslusif hanya sibuk untuk memperbaiki kondisi yang sakit/buruk dalam hidup, menuju pengembangan kualitas yang terbaik dalam hidup.
Selanjutnya Seligman
& Csikszentmihalyi (2000) menjelaskan bahwa psikologi
positif memiliki tiga pilar utama yaitu: pertama, pengalaman hidup yang positif
pada individu dengan mengeksplorasi emosi-emosi positif. Pilar kedua adalah
properti fisik yang positif dari individu, menggali trait kepribadian positif,
bakat dan kekuatan individu. Pilar ketiga adalah adalah masyarakat
yang positif, menggali institusi sosial yang positif, seperti demokrasi,
keluarga yang kuat dan pendidikan yang mendorong perkembangan yang positif.
Selain itu, secara lebih spesifik Ryff (1989) mengkaji tentang well-being (happiness) yang kemudian menyusun
konstruk Well-being terdiri dari (1) kepuasan hidup; (2)
pengaruh keseimbangan; (3) penghargaan atas diri; (4) Pengaruh dari orang lain;
(5) kontrol internal; (6) kontrol pilihan; (7) depresi. Psikologi
positif pada kenyataanya telah dapat diterapkan dalam bidang pendidikan
sebagaimana Seligman et al. (2009) yang telah membuktikan bahwa
keterampilan meningkatkan resiliensi, emosi positif, keterlibatan dan
makna-makna belajar dapat diajarkan kepada anak-anak sekolah. Pendidikan positif
akan membentuk “kemakmuran baru” bagi siswa.
Terdapat dua paradigma yang berbeda dalam mempelajari konsep positive psychological functioning. Dua paradigm tersebut adalah subjective well-being dan psychological well-being. Paradigma subjective well-being berpijak pada pandangan hedonic yang mana mengaitkan well-being dengan persepsi subjektif terhadap kebahagian yang dinyatakan dalam bentuk kepuasan terhadap hidup dan kemampuan untuk menyeimbangkan afek positif dan negatif (Diener, 2000). Sedangkan, paradigma psychological well-being mengakarkan diri pada pandangan eudaimonic yang mengacu pada konsep aktualisasi potensi manusia dalam menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan hidup (Keyes et al., 2002). Berdasarkan uraian konsep well-being tersebut, maka Student well-being merupakan perpaduan diantara keduanya karena berpengaruh dengan kualitias kehidupan siswa di sekolah dalam jangka pendek seperti adanya emosi positif dan dalam jangka panjang seperti berkembangnya fungsi positif siswa.
Subjective well-being berkaitan dengan bagaimana dan mengapa orang mengalami hidup mereka dengan
cara yang positif, termasuk dalam hal ini adalah penilaian kognitif dan reaksi
afektif. Dengan demikian, subjective well-being mencakup studi
yang mengkaji tentang kesenangan, kepuasan, moral, dan pengaruh
positif (Diener, 1984). Area subjective well-being memiliki
tiga pilar. Pertama, sisi subjektif yaitu pengalaman individu dan sebaliknya
yang tidak ada dalam subjective well-being adalah kondisi
obyektif yang diperlukan seperti kesehatan, kenyamanan, kebajikan, atau
kekayaan. Meskipun kondisi seperti itu dipandang sebagai pengaruh potensial
terhadap subjective well-ebing namun hal itu tidak dipandang
sebagai bagian yang melekat dan perlu darinya. Kedua, subjective
well-being mencakup ukuran-ukuran positif. Bukan hanya tidak adanya
faktor negatif, seperti yang terjadi pada sebagian besar ukuran kesehatan
mental. Ketiga, subjective well-being biasanya mencakup
penilaian umum dari semua aspek kehidupan seseorang. Meskipun efek atau kepuasan
dalam domain tertentu dapat dinilai, penekanan biasanya ditempatkan pada
penilaian terintegrasi dari kehidupan orang tersebut. Meskipun demikian,
penilain tersebut dapat mencakup jangka waktu mulai dari beberapa minggu hingga
seluruh hidup seseorang (Diener, 1984).
Psychological well-being dapat diukur dari enam aspek yakni kemandirian, penguasaan lingkungan,
pengaruh positif terhadap orang lain, memiliki tujuan hidup, pertumbuhan
pribadi, dan penerimaan diri (Ryff, 1989). Individu yang memanifestasikan diri
pada eudaimonic akan memiliki karakter yang mampu menghargai
diri sendiri termasuk keterbatasan pribadi yang dimilikinya, mampu membangun
dan menjaga pengaruh yang baik dengan sesama, menciptakan lingkungan yang
mendukung kebutuhan dan keinginannya, memahami individualitas dan kebebasan
seseorang, tahu arah dan tujuan hidupnya serta bertumbuh kembang sepanjang
hidupnya (Vázquez et al., 2009). Belum adanya kesepakatan tentang
definisi psychological well-being membuat pembahasan menjadi
dinamis dan terbuka. Secara harfiah Ben-Arieh & Frønes
(2011) mengemukakan psychological well-being berpengaruh
dengan pemenuhan keinginan, untuk menyeimbangkan kesenangan dan kesedihan dan
membuka kesempatan untuk perkembangan dan pemenuhan diri. Sedangkan, Ryff
& Keyes (1995) mendefinisikan psychological well-being sebagai suatu kesadaran individu
tentang tujuan hidup, kesadaran terhadap potensi yang dimiliki, kualitas
pengaruhnya dengan orang lain serta tanggung jawab terhadap hidup.
Dalam perspektif psychological
well-being kesadaran akan potensi yang dimiliki individu dapat mendorong individu untuk menggali
potensi diri secara keseluruhan. Dorongan yang terbentuk menyebabkan seseorang
menjadi menyerah terhadap keadaan atau berusaha untuk memperbaiki keadaan
hidup. Bila individu memilih menyerah maka psychological well-being individu
tersebut rendah, sebaliknya bila individu memilih untuk berusaha maka psychological
well-being individu tersebut tinggi. Individu yang memiliki
tingkat psychological well-being yang tinggi, diprediksikan
memiliki fleksibilitas dan originalitas yang lebih besar, mampu merespon dengan
lebih baik ketika menerima umpan balik yang tidak menyenangkan, memiliki
penilaian yang baik terhadap orang lain, menunjukan rasa keterikatan yang lebih
tinggi, lebih produktif dan memiliki kehidupan yang lebih baik di rumah maupun
di tempat kerja (Lyubomirsky et al., 2005).
Dari kedua pandangan filosofis tersebut, beberapa ahli
kemudian merumuskan definisi student well-being. Fraillon
(2004) menyatakan bahwa student well-being dapat dilihat
dari sejauh mana siswa dapat berfungsi efektif dalam komunitas sekolah. Hal itu
didasari atas pemahaman bahwa upaya mendefinisikan student well-being tidak
dapat dilepaskan dari luasnya konteks sekolah karena komunitas sekolah
menyediakan berbagai sumber daya yang dapat memunculkan well-being pada
siswa.
Pada perspektif yang berbeda, Konu & Rimpelä, (2002) menyebutnya dengan istilah school well-being yang didefinisikan sebagai keadaan di komunitas sekolah yang memungkinkan para siswanya dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya baik materil maupun non-materil. Sementara itu, Soutter (2011) menjelaskan bahwa Student well-being adalah keadaan senang, bahagia dan perasaan berkembang yang dialami siswa yang ditunjukkan dengan kepemilikian otonomi dan preferensi serta kemampuan siswa dalam menghargai nilai-nilai akademik, moral maupun sosial selama proses pembelajaran di sekolah. Sedangkan, Karyani et al. (2015) merumuskan student well-being sebagai kemampuan siswa untuk menyelaraskan tuntutan dari dalam diri dan lingkungan yang ditandai oleh adanya afek positif (misalnya aman, terneteram, damai, bahagia) dan kepuasan siswa terhadap diri sendiri dan dan lingkungannya (rukun, tolong menolong) sehingga siswa mampu berfungsi secara efektif di sekolah.
Sehingga, dengan demikian, student well-being dapat dimaknai sebagai
Daftar Rujukan
Ben-Arieh, A., & Frønes, I. (2011). Taxonomy for child well-being indicators: A framework for the analysis of the well-being of children. Childhood, 18(4), 460–476.
Diener, E. (1984). Subjective well-being. Psychological Bulletin, 95(3), 542–575.
Diener, E. (2000). Subjective well-being: The science of happiness and a proposal for a national index. American Psychologist, 55(1), 34.
Fraillon, J. (2004). Measuring student well-being in the context of Australian schooling: discussion paper. In The National and International Surveys at ACEReSearch.
Karyani, U., Prihartanti, N., Dinar, W., Lestari, R., Hertinjung, W., Prasetyaningrum, J., Yuwono, S., & Partini, D. (2015). The Dimensions of Student Well-being. Seminar Psikologi & Kemanusiaan, 978–979.
Keyes, C. L. M., Shmotkin, D., & Ryff, C. D. (2002). Optimizing well-being: The empirical encounter of two traditions. Journal of Personality and Social Psychology, 82(6), 1007–1022. https://doi.org/10.1037/0022-3514.82.6.1007
Konu, A., & Rimpelä, M. (2002). Well-being in schools: A conceptual model. Health Promotion International, 17(1), 79–87.
Lyubomirsky, S., King, L., & Diener, E. (2005). The benefits of frequent positive affect: Does happiness lead to success? Psychological Bulletin, 131(6), 803–855.
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. In Journal of Personality and Social Psychology (Vol. 57, Issue 6, pp. 1069–1081).
Ryff, C. D., & Keyes, C. L. M. (1995). The Structure of Psychological Well-Being Revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 69(4), 719–727.
Seligman, M. E., & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive psychology. An introduction. The American Psychologist.
Seligman, M. E. P., Ernst, R. M., Gillham, J., Reivich, K., & Linkins, M. (2009). Positive education: Positive psychology and classroom interventions. Oxford Review of Education, 35(3), 293–311.
Soutter, A. K. (2011). What can we learn about wellbeing in school ?. Journal of Student Wellbeing, 5: 1–21.
Vázquez, C., Hervás, G., Rahona, J. J., & Gómez, D. (2009). Psychological Well-Being and Health. Contributions of Positive Psychology. Annuary of Clinical and Health Psychology, 5(2009), 15–27.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar