Tes Calistung Masuk SD Boleh, Asal ...


Beberapa hari yang lalu, saya bersama istri berbincang mengenai persiapan anak pertama kami yang akan memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Sebenarnya masih akan masuk SD di tahun depan (2024), akan tetapi jarak waktu setahun itu terasa sangat dekat.

Di saat yang sama, di beberapa media arus utama sedang menayangkan berita tentang Mas Mendikbud Nadiem Makarim yang memberikan kritik sekaligus arahan tentang tes baca, tulis, hitung (calistung) masuk SD yang masih marak terjadi di beberapa sekolah.

Saat peluncuran program merdeka belajar episode ke-24 mengenai Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, beliau mengungkapkan kekesalannya. Sebabnya, masyarakat luas masih terjebak kesalahpahaman yang menganggap bahwa tes calistung adalah satu-satunya kemampuan yang wajib dikuasai anak usia dini saat masuk di sekolah dasar. Oleh sebab itu, beliau memutuskan menghapus tes calistung sebagai syarat masuk SD.

Setidaknya, bagi mahasiswa calon guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) persoalan tentang tes masuk SD bukanlah hal yang baru. Biasanya, persoalan ini selalu menjadi tema yang menarik saat diskusi kelas. Demikian juga, obrolan saya bersama istri soal itu (FYI, saya dan istri sama-sama alumni program sarjana pendidikan dasar, hehe).

Singkatnya, di akhir obrolan, kami berkesepahaman bahwa tes calistung masuk SD itu dalam kaidah tertentu boleh dilakukan. Mengapa demikian?

Hal utama dalam momen transisi dari PAUD ke SD adalah faktor kesiapan bersekolah anak. Diantaranya adalah anak telah siap untuk mengembangkan kemandirian, terlibat dalam kegiatan belajar yang lebih kompleks, dan berinteraksi dengan sumber belajar yang lebih beragam, dalam hal ini termasuk memahami kosakata yang terkandung dalam buku bacaan sekolah.

Mengenai pentingnya penguasaan literasi dasar (calistung) kaitannya dengan sumber belajar bagi anak, hasil riset Lonigan et al (2000) patut kita simak. Ia menjelaskan bahwa perkembangan anak-anak prasekolah di bidang bahasa lisan, kesadaran fonologis dan pengetahuan cetak (huruf, kata) memprediksi seberapa baik mereka akan belajar membaca begitu mereka dipaparkan dalam pengajaran membaca formal di sekolah dasar.

Maka, dengan demikian, sejauh mana kemampuan calistung saat masa transisi anak dari PAUD ke SD adalah hal yang penting untuk diketahui. Sehingga, guru mengetahui keragaman capaian literasi dasar dari masing-masing siswanya. Dalam kerangka pikir ini, seharusnya tes calistung masuk SD tetap boleh dilaksanakan.

Tes yang dimaksud bukan berarti diadakan dengan format semacam tes kelulusan. Melainkan, dirancang sebagaimana screening test yang bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan awal anak sesuai pengalaman belajar yang dialami. Misalnya, kemampuan mengenali huruf, membaca suku kata, membaca kata sederhana, menulis angka, dan melakukan operasi hitung sederhana.

Kemampuan-kemampuan di atas saya pikir telah umum diajarkan pada anak usia pra sekolah yang memiliki rentang usia 4-6 tahun. Hanya saja, kegiatan pembelajaran literasi dasar di pra sekolah harus dilaksanakan berdasarkan prosedur yang terukur dengan tanpa mengabaikan kesiapan mental dan psikologis anak. Tentunya, dalam fase ini memaksakan anak untuk bisa membaca kata dengan lancar sama sekali bukan tindakan yang benar. Termasuk apa yang saya lakukan terhadap anak saya sendiri.

Saya sudah mengajak anak saya untuk mengenali huruf dan angka sejak ia akan memasuki usia 4 tahun (sekali lagi, saya mengajaknya, bukan memaksanya). Alhamdulillah, saat itu ia merespon dengan bagus. kemudian, saya mulai putarkan lagu-lagu anak yang bertema pengenalan huruf secara rutin. Ia pun tampak merasa terhibur dan ikut menyanyikannya. Demikian juga, saya mulai mengenalkan angka dan operasi hitung sederhana kepadanya.

Sekarang, saat anak saya akan memasuki usia 5 tahun ia sudah mampu membaca kata sederhana, membilang angka, dan melakukan operasi hitung sederhana. Meskipun, kadang-kadang dengan belepotan, bagi saya itu bukanlah masalah. Beberapa kali ia mencoba mengembangkan kemampuannya, misalnya dengan berlatih membaca kata apapun yang tertulis di kemasan snack kesukaannya, menuliskan namanya sendiri di kertas-kertas hasil pekerjaannya dan mengetikkan kata kunci dalam formulir pencarian untuk memutar channel youtube kesukaannya.

Berkaca dari yang saya alami, kemampuan literasi awal bagi anak usia dini setidaknya mampu melatih anak membangun kepercayaan diri dan mulai mengenalkannya pada dunia literasi yang mana hal ini akan sangat membantu anak sukses menjalani kehidupan SD di fase awal.

Sehingga, dengan demikian tampak jelas bahwa yang sebenarnya perlu dihapus adalah praktik pemaksaan anak untuk menguasai kemampuan literasi dasar dan menjadikan tes calistung sebagai syarat masuk anak PAUD ke SD. Karena hal itu hanya akan menghambat pertumbuhan efikasi diri dan memunculkan rasa ketidakberdayaan pada diri anak.

Sedangkan, tes calistung yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi capaian literasi dasar dari masing-masing calon siswa tetap perlu dilaksanakan. Dengan begitu, guru akan memiliki data awal yang dapat dimanfaatkan untuk merancang pembelajaran secara tepat, baik klasikal maupun individual, guna memastikan bahwa setiap anak berhasil menguasai keterampilan literasi sejak di kelas awal.


Daftar Pustaka

Lonigan, Chistopher & Burgess, Stephen & Anthony, Jason. (2000). Development of Emergent Literacy and Early Reading Skills in Preschool Children: Evidence From a Latent-Variable Longitudinal Study. Developmental Psychology. 36. 596-613.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Pilihan

Memahami Classroom Emotional Climate (Iklim Emosional Kelas)

  Beberapa penulis telah menyelidiki aspek lingkungan belajar di berbagai sistem pendidikan. Mereka menyelidikinya dengan beragam perspektif...

Artikel Populer