Memahami Self-Efficacy (Efikasi Diri) Siswa

 


Self-efficacy merupakan konsep yang diturunkan dari teori sosial kognisi yang memandang bahwa perilaku manusia tidak dibawa sejak lahir tetapi dari proses belajar dan manusia memiliki bakat dasar yang dapat dikembangkan dengan membentuk respon baru melalui pembelajaran (Bandura, 1986). Pendapat lain, Byrne & Baron, (2003) mengemukakan bahwa Self-efficacy adalah keyakinan individu pada kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan tugas yang diberikan, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan.. Bandura & Wessels (1997) Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengatur dan melakukan serangkaian tindakan yang diperlukan untuk mengelola situasi yang prospektif.

 

Dalam konteks akademis, self-efficacy sering digambarkan dalam istilah self-efficacy akademik yang didefinisikan sebagai penilaian pelajar tentang kemampuan seseorang untuk berhasil mencapai tujuan pendidikan (Honicke & Broadbent, 2016). Self-efficacy akademik adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mendapatkan hasil terbaik dalam bidang akademik dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, self-efficacy akademik mengandung makna bahwa individu yakin dengan kemampuannya dalam bidang akademik, percaya bahwa dirinya mampu menghadapi masalah yang mungkin terjadi, tidak terduga dan menimbulkan stres.

 

Sedangkan, dalam konteks sosial siswa, self-efficacy disebut sebagai self-efficacy sosial yang didefinisikan sebagai penilaian diri siswa dalam interaksi sosial di mana mereka berharap untuk berhasil melakukan atau menyelesaikan perilaku target dalam situasi akademik atau sehari-hari yang melibatkan interaksi sosial (Fan & Mak, 1998). Lebih khusus dalam setting sekolah, situasi akademik dan situasi sosial saling terkait sebagaimana yang dinyatakan oleh Pace et al. (2019) bahwa pembangunan di satu domain sering kali memengaruhi atau bergantung pada pengembangan di domain lain. Karenanya, perkembangan akademik dan sosial saling terkait dan dinamis dari waktu ke waktu. Dengan demikian, self-efficacy yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penilaian atas tingkat keyakinan diri siswa akan kemampuan dirinya dalam menghadapi situasi akademik dan situasi sosial yang dapat mengarahkan pada tercapainya well-being.

 Dimensi Self-Efficacy

Konstruk yang dibangun dalam self-efficacy adalah keyakinan pada keberhasilan dan pengharapan terhadap hasil. Keyakinan diri seseorang akan keberhasilan dalam bidang akademik merupakan keyakinan seseorang untuk dapat melakukan dengan baik sesuatu yang dibutuhkan demi mencapai prestasi atau tujuan yang diharapkan (Bandura, 1997).

Menurut Bandura (1986) ada tiga dimensi yang dapat menggambarkan keadaan dari self-efficacy seseorang, yaitu:

a.     Magnitude, yaitu hal yang berpengaruh dengan tingkat kesulitan tugas. Jika seseorang dihadapkan dengna berbagai macam tugas, kemudian dia menyusun tugas-tugas tersebut sesuai dengan tingkat kesulitannya dan dia akan menjatuhkan terlebih dahulu pada tugas yang dianggap mudah, sedang atau sulit sesuai dengan kemampuan yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dibutuhkan.

b.     Strength, yaitu tingkat kemantapan seseorang atas keyakinan atau ekspektasi yang dimilikinya. Individu yang memiliki keyakinan yang lemah akan mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan, sebaliknya yang kuat akan dapat bertahan.

c.     Generality, yaitu dimensi yang mengacu pada variasi situasi dimana penilaian terhadap self-efficacy dapat dijelaskan dan tidak terbatas pada situasi yang spesifik saja, yang berarti bidang perilaku yang dilakukan luas. Beberapa jenis pengalaman menciptakan harapan keberhasilan yang terbatas, sementara yang lain bersifat umum.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self-Efficacy

Menurut Bandura & Wessels (1997), self-efficacy dapat dikembangkan melalui empat sumber utama, yaitu:

a.     Pengalaman keberhasilan

Pengalaman keberhasilan sebelumnya berdampak pada kemampuan seseorang untuk mengukur kemampuannya sendiri, menafsirkan pengalamannya untuk menciptakan kepercayaan akan kemampuannya. Hasil penafsiran tersebut akan meningkatkan self-efficacy, sedangkan yang menafsirkan dengan pengalaman kegagalan akan menurunkan self-efficacy. Pengalaman keberhasilan merupakan sumber paling berpengaruh yang memiliki implikasi penting sebagai model peningkatan diri dalam prestasi akademik, karena didasarkan pada pengalaman yang nyata dalam menguasai tugas tersebut.

Apabila keberhasilan yang didapat seseorang lebih banyak karena faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh terhadap peningkatan self-efficacynya. Akan tetapi jika keberhasilan tersebut didapatkan dengan melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil perjuangannya sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan self-efficacynya.

b.     Pengalaman orang lain

Pengamatan terhadap keberhasilan orang lain yang mempunyai kemiripan dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas akan meningkatkan keyakinan individu dalam mengerjakan tugas yang sama. Self-efficacy seseorang bisa meningkat melalui proses mengamati orang lain dan meniru perilaku orang tersebut dan kemudian dibandingkan dengan dirinya. Menurut Schunk (1985), model penting dalam hidup seseorang dapat membantu menanamkan rasa percaya diri yang akan mempengaruhi jalan dan arah hidup yang akan dilalui.

Brown & Inouye (1978), ketika seseorang menilai diri mereka memiliki kemampuan yang sama dengan orang lain yang dicontohnya, tetapi ternyata orang tersebut mengalami kegagalan, maka akan berpengaruh negative pada self-efficacy orang yang mencontohnya. Jika individu menilai kemampuan mereka lebih tinggi dibanding kemampuan orang lain, maka kegagalan orang tersebut tidak memberikan dampak negatif.

c.     Dorongan lisan

Dorongan lisan merupakan dukungan dari orang lain yang menyatakan bahwa individu itu mempunyai kemampuan. Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh orang lain yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa individu tersebut mampu dalam melaksanakan tugas. Menurut Bandura (1997), dorongan lisan yang efektif hendaknya tidak dikaburkan dengan pujian yang berlebihan atau bahkan bisa menghilangkan inspirasi seseorang. Pemberi dorongan harus menanamkan kepercayaan pada kemampuan individu dan meyakinkan bahwa sukses dapat dicapai. Bandura (1986), mengungkapkan bahwa untuk melemahkan self-efficacy melalui ungkapan-ungkapan negative lebih mudah dibandingkan degan memperkuat kepercayaan tersebut melalui dorongan positif.

d.     Keadaan fisiologis dan afektif

Self-efficacy dapat dipengaruhi oleh keadaan fisiologis dan afektif. Keadaan fisiologis seperti cemas, tertekan, lelah, stress,dan  keadaan hati bisa mempengaruhi self-efficacy. Menurut Bandura (1997), seseorang hidup di lingkungan psikis yang membentuk dirinya dan seseoarng dapat membaca dirinya sendiri. Pembacaan ini menjadi realisasi atas keadaan pikiran dan emosi yang telah dibuat seseorang dalam dirinya. Individu juga mengukur keyakinan/kepercayaan dirinya dengan keadaan emosi yang mereka alami, terutama ketika seseorang mengalami pikiran menghindar dan ketakutan karena kemampuannya, reaksi afektif negative menurunkan persepsi kemampuan individu dan dapat menimbulkan stress yang bisa membantu melahirkan performansi tidak tepat dari apa yang dikhawatirkan.


 Daftar Rujukan

Bandura, A., & National Inst of Mental Health. 1986. Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall, Inc.

Bandura, A. 1997. Self-efficacy: The exercise of control. W H Freeman/Times Books/ Henry Holt & Co.

Brown, I., & Inouye, D. K. 1978. Learned helplessness through modeling: The role of perceived similarity in competence. Journal of Personality and Social Psychology, 36(8).

Byrne, D., & Baron, R. A. 2003. Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid 1. Sidoarjo: PT Erlangga.

Fan, C., & Mak, A. S. (1998). Measuring social self-efficacy in a culturally diverse student population. Social Behavior and Personality, 26(2), 131–144.

Honicke, T., & Broadbent, J. (2016). The influence of academic self-efficacy on academic performance: A systematic review. Educational Research Review, 17, 63–84.

Pace, A., Alper, R., Burchinal, M. R., Golinkoff, R. M., & Hirsh-Pasek, K. (2019). Measuring success: Within and cross-domain predictors of academic and social trajectories in elementary school. Early Childhood Research Quarterly, 46, 112–125.

Schunk, D. H. (1985). Self‐efficacy and classroom learning. Psychology in the Schools.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Pilihan

Memahami Classroom Emotional Climate (Iklim Emosional Kelas)

  Beberapa penulis telah menyelidiki aspek lingkungan belajar di berbagai sistem pendidikan. Mereka menyelidikinya dengan beragam perspektif...

Artikel Populer