Teori Ekologi Bronfenbrenner: Pengantar Singkat


 

Teori ekologi dirumuskan oleh Bronfenbrenner di bawah pengaruh teori Medan Kurt Lewin. Keduanya pernah dipertemukan dalam lembaga penelitian di Amerika Serikat saat terjadi perang dunia I. Kesempatan itulah yang membuat Bronfenbrenner dekat dengan Kurt Lewin (Bronfenbrenner, 1977). Ia secara gamblang menyatakan sejalan dengan Lewin bahwa perilaku manusia berada di dalam konteksnya yakni situasi, interpersonal, sosiologis, budaya, sejarah, dan teoretis. Ia juga melancarkan kritikan atas penelitian anak yang dilakukan di dalam laboratorium karena dianggap terlepada dari karakteristik lingkungan alamiah anak (Guy-Evans, 2020).

Teori ekologi Bronfenbrenner memandang perkembangan anak sebagai sistem relasi kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai lingkungan sekitar, dari lingkungan yang terdekat (keluarga) hingga lingkungan terluar (budaya, nilai filosofi negara). Dalam perkembangannya, teori ekologi Bronfenbrenner membagi lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan anak ke dalam 5 level yakni, mikrositem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem (Guy-Evans, 2020).

Mikrosistem merupakan lingkungan di level pertama yang terdekat dengan anak, seperti orang tua, saudara sekandung, guru, dan teman sekolah. Dalam awal teori ini disebutkan bahwa dalam mikrosistem terdapat sebuah fitur yang disebut aktivitas. Bronfenbrenner menjelaskan bahwa aktivitas berbeda dengan gerakan ataupun ucapan. Aktivitas adalah proses berkelanjutan dari seorang anak dalam memenuhi tuntutan lingkungan terdekat. Pada fitur selanjutnya, dijelaskan oleh Brofenbrenner bahwa dalam mikrosistem terdapat keberadaan interkoneksi antara orang-orang di dalam setting (Bronfenbrenner, 1977). Dengan kata lain, perkembangan anak di level mikrosistem dipicu adanya aktivitas dan struktur kelompok (orang-orang) di lingkungan terdekat.

Mesosistem merupakan lingkungan di level kedua yang berfungsi sebagai lingkungan interaksi antara lingkungan-lingkungan mikrosistem anak, seperti interaksi orang tua dan guru, interaksi orang tua dengan teman. Dengan kata lain, mesosistem adalah sistemnya mikrosistem itu sendiri. Bronfenbrenner (1977) menjelaskan bahwa interaksi yang memungkinkan terjadi di level kedua ini adalah ecological transition, yaitu perpindahan orang yang sedang berkembang maupun orang pada umunya ke dalam konteks ekologi yang baru dan berbeda. Kemungkinan interaksi lainnya adalah transcontextual dyad yaitu, sistem dua orang yang melibatkan orang yang sedang berkembang yang muncul kembali di lebih dari satu persitiwa/latar, misalnya adalah interaksi orang tua dan anak. Pola lain interaksi yang terjadi di level ini adalah pola komunikasi yang terjadi diantara orang-orang di mikrosistem anak melalui media sosial.

Eksosistem merupakan lingkungan di level ketiga yang berfungsi sebagai gabungan dari struktur sosial baik formal maupun informal yang tidak berpengaruh langsung terhadap perkembangan anak, melainkan secara tidak langsung mempengaruhi mikrosistem anak, seperti tetangga, teman kerja dari orang tua, dan media massa. Bronfenbrenner (1977) menjelaskan bahwa faktor utama di dalam eksosistem adalah keterlibatan orang lain yang berperan signifikan dalam kehidupan anak, meskipun tidak bersinggungan langsung dengan anak yang sedang berkembang dan peran institusi sosial (misal, tempat orang tua bekerja).

Makrosistem adalah komponen ekologi yang berfokus pada bagaimana elemen budaya berpengaruh terhadap perkembangan anak, seperti kelas sosial-ekonomi, kemakmuran, kemiskinan, dan faktor etnis. Bronfenbrenner (1977) menjelaskan bahwa anak-anak dari satu atau lain kelompok subkultur berkembang dengan cara tertentu disebabkan adanya kesamaan karakter mikro, meso, dan eksosistem yang beroperasi di sekitar lingkungan anak. Kelas sosial, etnis, dan agama bukan sebagai atribut pribadi, tetapi berfungsi untuk meningkatkan atau menghambat proses memanusiakan manusia (anak berkembang optimal).

Kronosistem adalah komponen terluar dari teori ekologi Bronfenbrenner yang terdiri dari semua perubahan lingkungan yang terjadi sepanjang hidup yang mempengaruhi perkembangan, termasuk transisi kehidupan, dan peristiwa sejarah. Ini dapat mencakup transisi kehidupan normal seperti mulai sekolah tetapi juga dapat mencakup transisi kehidupan non-normatif seperti orang tua bercerai atau harus pindah ke rumah baru (Guy-Evans, 2020).

Dalam perkembangan selanjutnya, teori ekologi mengalami penyempurnaan dan disebut teori bioekologi karena ketertarikan Bronfenbrenner dalam menyediakan teori, rancangan penelitian, dan korespondensi temuan penelitian yang berfokus pada bagaimana manusia dapat berkembang pada saat ini dan di masa mendatang. Di akhir, Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan dapat dipahami secara lebih baik dengan memahami efek dari proses proksimal yang mana mengarahkan kita untuk fokus pada orang, konteks, dan hasil perkembangan karena proses ini bervariasi dan memengaruhi orang secara berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Pilihan

Memahami Classroom Emotional Climate (Iklim Emosional Kelas)

  Beberapa penulis telah menyelidiki aspek lingkungan belajar di berbagai sistem pendidikan. Mereka menyelidikinya dengan beragam perspektif...

Artikel Populer